Hi! Selamat Datang...

The New Wave Marketing telah hadir, pilihan anda adalah Fight or Flight...

Blog ini berisi buah pikiran pribadi saya dari New Wave Marketing seperti yang dicetuskan oleh Hermawan Kartajaya.
Silahkan dinikmati dan ditelaah. Diskusi, konsultasi dan sarannya ditunggu :)

Friday, August 20, 2010 ~ 0 Comments

Kegelisahan dan Hasrat Kaum Youth, Women dan Netizen

Pindah neh ke Detik tahun ini pak? :)
Semoga tambah sukses tahun ini yah...
===========================
http://www.detikfinance.com/read/2010/08/20/184102/1424601/4/kegelisahan-dan-hasrat-kaum-youth-women-dan-netizen?f9911023
Jumat, 20/08/2010 18:41 WIB
Riset MarkPlus Insight & Marketeers
Kegelisahan dan Hasrat Kaum Youth, Women dan Netizen
Hermawan Kartajaya - detikFinance 




Jakarta
 - Tanggal 11 Januari 2010 terasa sangat sakral karena kalau disingkat menjadi 01-10-01. Pada tanggal tersebut tim di Marketeers (komunitas pemasar di Indonesia) menyelenggarakan New Wave Marketing Power Lunch di kampus MarkPlus Institute of Marketing (MIM) di Jakarta. 

Acara makan siang tersebut memang betul-betul "bertenaga kuat" maka tak salah kalau disebut Power Lunch. 


Kenapa? Pertama, acara tersebut menghadirkan Menkominfo Tifatul Sembiring, yang hadir untuk mendengarkan langsung diskusi panel terhadap tiga kekuatan baru di pemasaran yaitu para pemuda-pemudi (The Youth), kaum wanita (The Women), dan para Netizen. Kalau biasanya Menteri diundang datang untuk memberikan pemaparan, di acara kali ini Menteri yang diundang datang diminta untuk mendengarkan aspirasi dari anak muda, kaum perempuan, dan para Netizen di Indonesia.

Kedua, acara makan siang tersebut diselenggarakan terbatas hanya untuk 50 orang, dihadiri oleh pimpinan redaksi media konvensional dan online, bloggers ternama, kalangan selebritis yang relevan, Influencer dari berbagai komunitas terkait dengan youth, women, dan netizen, kalangan pemasar, dan komunitas pemasaran yang tergabung dalam Marketeers.

Topik pembahasan dari panel diskusi itu sendiri fokus pada satu hal yaitu pergeseran yang tengah terjadi seiring dengan masuknya kita ke alam New Wave, di mana muncul  kekuatan baru. Posisi The Senior 'disodok' oleh The Youth. Kaum pria (The Men) semakin 'tersudut' dan 'disodok' oleh kaum wanita (The Women). Peranan The Citizen semakin tergeser oleh The Netizen. Inilah yang kami di MarkPlus, Inc sebut sebagai The Anatomy of New Wave Culture.

Lantas, kenapa The Youth, The Women dan The Netizen ini saya sebut sebagai The three New Wave Subcultures? Ya, karena ketiganya memang punya sikap, paradigma dan perilaku yang berbeda. Akan tetapi tetap saja, ketiganya berada dalam payung New Wave Culture. Sebuah budaya baru yang ditimbulkan oleh Teknologi New Wave yang horizontal.

Apa gunanya Anda mengerti The Anatomy of New Wave Culture ini? Ada tiga saja tapi sangat menentukan!

Pertama, Lead The Youth if you want to win the Mind-share…
Kedua, Manage The Women if you want to win the Market-Share…
Ketiga, Organize The Netizen if you want to win the Heart-Share...

Ketiga hal itulah yang menjadi pokok bahasan kolom MarkPlus Insight bersama Marketeers di Detik.com kali ini. Selama beberapa bulan ke depan, kami akan membahas temuan riset di lapangan mengenai fenomena kegelisahan dan hasrat terpendam konsumen muda, perempuan, Netizen di Indonesia. 

Artikel mengenai konsumen Youth, ditulis berdasarkan analisa hasil riset sindikasi terhadap hampir 800 responden anak muda di 6 kota besar di Indonesia, SES A-B, Umur 16-35, yang dilakukan bulan Februari-Maret 2010 oleh MarkPlus Insight berkerjasama dengan Komunitas Marketeers.

Artikel mengenai konsumen Women, ditulis berdasarkan analisa hasil riset terhadap 1300 responden perempuan di 8 kota besar di Indonesia, ses A-D, Umur 16-50, yang dilakukan bulan Mei-Juli 2010 oleh MarkPlus Insight berkerjasama dengan Komunitas Marketeers.

Kumpulan artikel ini nantinya akan dijadikan buku yang akan ditulis bersama oleh tim Markplus, Marketeers, dan pembaca detik.com. Buku dengan judul ”Anxieties & Desires: What Youth, Women, Netizen in Indonesia Really Want?” ini akan diluncurkan pada saat MarkPlus Conference 2011 di Ritz Carlton, Pacific Place, Jakarta pada tanggal 16 Desember 2010.

Selamat mengarungi marketing di era New Wave! Pahami kegelisahan dan hasrat terpendam Youth, Women, dan Netizen!

Join the conversation on facebook.com/TheMarketeers atau Twitter di @the_Marketeers

(qom/qom) 

Kegelisahan dan Hasrat Kaum Youth, Women dan NetizenSocialTwist Tell-a-Friend

Wednesday, March 24, 2010 ~ 0 Comments

Marketing Like Bing: The Farmville Example frm Webpronews

Bing Shows How to Inspire Consumer Engagement with a Brand

There are many ways to market your business through Facebook. Some are obvious, and others not so much. One thing you can pretty much count on is that there are incredible masses of people on the social network that you can potentially reach, and in ways that will allow them not only to engage with your brand in a comfortable setting, but with other Facebook ecosystems they are already engaging with.

A perfect example of this was recently demonstrated by Microsoft in one of the company's many marketing strategies for its "decision engine" Bing. I sat in on a Bing panel this week at SXSW, where some of Bing's marketers talked about a variety of ways they have used social media to gain users. One of these ways was through none other than Farmville (if you're a Facebook user, and don't live under a rock, you've at least heard of it).

More people use Farmville than Twitter, according to Bing, and People are sharing all kinds of activities within Farmville itself. That's why the company saw a great opportunity to experiment. What they did was offer a special offer inside of Farmville, that would give users free "farm cash" if they became a fan of Bing on Facebook, which would encourage continued user interaction with Bing. As a result:

- Over 72% of users who clicked on the engagement became fans
- 59,000 people published the story to their news feed
- Over 70,000 clicks were received on secondary feeds
- In 24hours, Bing had over 400,000 new fans to keep

Microsoft said its goals for engagement and social media efforts have been to:
- Add or create relevant value (stuff that's not even necessarily a Microsoft property)
- Add depth to Bing's personality
- Lead someone to a relevant engagement with Bing or each other.
- Yield passionate or emotional response from people
- Be intimate and/or scalable (can we be both)?

Bing's Farmville experiment achieved all of these. However, the point of this is not that you should go out and immediately start a campaign through Farmville (although maybe it's worth looking into if you think it's a fit). The point is that there are more ways to harness a massive social network user-base (Facebook recently surpassed Google as the most-visited site in the U.S. for the week), according to Experian Hitwise). That's a pretty impressive feat. Also consider that consumers favor brands who are on Facebook and Twitter, according to a recent study.

Really, it's not even about Facebook or Twitter. It's about getting out there wherever people are, and this is where they happen to be at the moment. That may change by this time next year, or the year after, but the principle will not. We're at a point in history where it's never been so easy for consumers and brands to engage with one another. Perhaps even better for brands, is that it has never been easier to reach customers in places they choose to entertain themselves, and I don't mean just get in their faces, but actually reach them and get that engagement from them.

Marketing Like Bing: The Farmville Example
Chris Crum
Staff Writer
http://webpronews.com/

Marketing Like Bing: The Farmville Example frm WebpronewsSocialTwist Tell-a-Friend

Tuesday, January 26, 2010 ~ 0 Comments

Jangan biarkan mereka mencuri mimpi Anda.

SocialTwist Tell-a-Friend

Sunday, January 10, 2010 ~ 0 Comments

Jangkau Konsumen anda dengan menjadikan brand anda Teman yang Baik

“If you go looking for a friend, you're going to find they're very scarce. If you go out to be a friend, you'll find them everywhere.”
Zig Ziglar (penulis dan pembicara motivasi Amerika)

Kata-kata Zig Ziglar tersebut telah di gaungkan sejak tahun 50an. Sampai sekarang bila kita telaah, kata-kata tersebut masih sangatlah relevan untuk sebuah bisnis untuk tidak hanya survive tapi juga memenangkan kompetisi.

Konsumen berhak mempunyai opini dan pilihan-pilihan mereka sendiri, sedari dahulu pun selalu begitu. Opini besar di masyarakat seringkali dapat dikendalikan dan diarahkan demi kepentingan-kepentingan pihak tertentu. Dahulu pekerjaan sebuah tim Public Relation didalamnya termasuk adalah kategori “mengendalikan” media (konvensional), karena media berperan besar menyampaikan pesan-pesan yang sampai pada masyakarat. Pesan-pesan itulah yang dijaga agar sesuai dengan konteksnya dan sesuai efeknya terhadap tujuan mereka. Karena pesan-pesan yang akan sampai pada masyarakat inilah yang akan turut membangun opini masyarakat, misalnya terhadap sebuah produk.

Di era serba informasi cepat dan dapat diakses dimana saja dan siapa saja, konsumen menjadi individu-individu yang powerful dari segi akses informasi. Mereka tidak lagi tergantung oleh media-media konvensional besar saja untuk mendapatkan informasi. Informasi menjadi konsumsi bebas setiap individu dengan kendali di setiap individu tersebut untuk mengciptakan dan mendistribusikannya.

Kita merasakan ketika SMS menjadi media baru penyaluran informasi mulai dari informasi tidak bertanggungjawab sampai digunakan oleh instansi pemerintah sendiri untuk menjangkau masyarakat luas, sampai saat ini banyak pula digunakan oleh operator sebagai jangkauan pengiklan. Media SMS saja sudah sulit dikendalikan oleh satu pihak, karena setiap individu berhak membuat dan mengedarkan sebuah SMS. Kita bisa rasakan hebohnya dan sensitifnya masyarakat terhadap isu-isu tertentu yang diedarkan melalui SMS sampai saat ini pun.

Tak heran juga ketika media e-mail menjadi salah satu saluran informasi yang sulit ditebak pula efeknya terhadap opini masyarakat. E-mail yang tepat bisa menghancurkan reputasi sebuah organisasi, email yang lain bisa menaikkan popularitas dan simpati. Sepertinya kasus Prita yang bermula dari sebuah email, kasus hoax The Botol Sosro yang banyak beredar di e-mail, cukup menjelaskan bagaimana posisi pergerakan media e-mail dalam distribusi informasi yang cukup berpengaruh.

Lalu datanglah web 2.0 dengan social media netwoking sebagai anak emasnya. Yang satu ini semakin memberikan sebuah alat yang powerful untuk setiap individu menjadi newsmaker dan broadcaster. Mudah karena dengan satu click saja sudah dapat membroadcast apapun yang ada dalam pikiran individu ke semua individu lainnya yang memang sudah pada posisi untuk turut mendapatkan update yang memang dia mau dan ijinkan.

Saat ini informasi bisa diciptakan dan digerakkan oleh siapa saja. Pintu akses dan kebebasan telah terbuka untuk setiap individu dan individu semakin berhak memilih apa yang ingin mereka lihat dan dengar. Kemudian kendali opini individu menjadi kendali terhadap masing-masing mereka sendiri dan komunitasnya. Mereka akan lebih percaya komunitasnya dikarenakan dalam komunitas itu mungkin adalah keluarga mereka, teman-teman mereka, orang-orang  yang mereka anggap ahli, ahli bukan karena gelar atau title tapi ahli karena sudah mencoba suatu hal dan membagi informasi berdasarkan pengalaman yang sudah dilakukannya. Di sinilah mereka meletakkan kepercayaannya terhadap komunitas yang mereka pilih mewakili identitas yang sama dengan mereka. Inilah teman-teman sejati bagi mereka, dan terkadang hal ini yang sama sekali tidak bisa didapatkan dari media-media konvensional.

Media konvensional mulai tidak lagi menjadi sumber informasi utama. Media konvensional telah menjadi sulit untuk menjangkau masyarakat dibandingkan dengan media modern seperti internet. Saat ini pekerjaan PR akan lebih kompleks dan signifikan. PR akan evolve menjadi lebih ke relationship dengan individu konsumen langsung. Bila dahulu media konvensional bisa dikumpulkan dan di briefing secara mudah, saat ini misalnya untuk menggerakkan blogosphere(dunia per-blog-an) untuk menyuarakan sebuah topik tentu tidak semudah itu. Mungkin mengundang para blogger dalam sebuah acara dengan harapan mereka akan menulis tentang topik dalam acara tersebut dalam blog mereka, mungkin juga mengadakan kontes blog dengan hadiah-hadiah yang menarik dapat mengangkat sebuah topik di blogosphere. Tetapi semua itu tentu sebuah pertaruhan yang serba tak pasti. Mulai dari apakah blogger akan menulis tentang topik tersebut setelah pulang dari sebuah acara atau apakah yang ditulis seorang blogger akan tepat seperti yang diinginkan dalam sebuah kontes, bahkan mungkin review yang buruk juga bisa saja didapatkan. Itu baru dunia blogger, bagaimana dengan social media network yang lebih luas lagi jangkauan individunya?

Kembali ke Zig Ziglar. Jika anda mencari teman, teman ini sangat sulit ditemukan, bila anda menjadi teman, kau akan menemukannya dimana saja. Kata-kata bijak ini terasa sangat tepat kebenarannya dalam kehidupan sehari-hari kita. Bila kita ingin mendapatkan teman, tidak bisa kita hanya mengundang mereka bertemu dan bertatap muka saja, lalu mengutarakan niat kita. Cara mencari teman yang paling mudah adalah memposisikan kita sebagai teman sebenarnya. Demikian halnya konsumen, mereka mengandalkan teman-teman mereka dan lebih percaya teman-teman mereka. Konsumen akan mencari teman mereka untuk saran, review dan nasehat tentang sebuah produk sebelum mereka memutuskan membeli. Teman-teman konsumen ini antara lain adalah search engine untuk riset seperti google, blog yang mereka anggap kompeten, mailing list, facebook, twitter dan masih banyak lagi. Semua ini adalah media online yang isi kontennya semua dihasilkan oleh individu-individu konsumen lainnya. Mereka akan mendapatkan poin lebih dimata calon konsumen karena mereka mungkin saja sudah pernah mencoba produk tertentu tersebut.

Tentu ini menjadi sebuah misi baru bagi setiap organisasi perusahaan, menjadi teman bagi setiap konsumennya. Menjangkau mereka secara individu tidaklah bearti custom made product saja, tetapi menjadi teman sejati yang mau mendengarkan keinginan dan kebutuhan konsumennya. Teman sejati yang ini yang tentu akan dapat meng-drive opini konsumen dengan aksi-aksi seperti memberikan value-value tambahan, mendengarkan saran terhadap produk, mengkonsultasi kebutuhan konsumen dan juga mendenagrkan keluhan.

Menjadi teman bearti mengerti mereka, bukan menggurui. Mengerti adalah mengetahui secara pasti kebutuhan konsumen, karena untuk memenuhi konsumenlah sebuah produk diciptakan. Berada di tempat-tempat mereka berada bearti masuk dalam tempat-tempat pergaulan yang tepat. Di mana konsumen-konsumen itu berada, disanalah brand harusnya berada. Dan dengan teknologi web 2.0 mencari teman mungkin sangat mudah, menjadikan konsumen mau menjadikan brand teman sejati mereka tentu tidak mudah. Oleh karenanya untuk sebuah brand untuk menjadi teman akan lebih baik memposisikan diri sebagai teman dahulu. Karena dengan menjadi teman, konsumen akan lebih mudah percaya dan mau menjadikan brand sebagai teman. Jadikan brand anda teman yang baik, brand anda akan memperoleh konsumen sebagaii teman anda dan anda tak akan kesulitan lagi menjangkau teman-teman anda dengan pesan-pesan yang tepat dan sesuai.

Brand anda sudah siap berteman?

Jangkau Konsumen anda dengan menjadikan brand anda Teman yang BaikSocialTwist Tell-a-Friend

Wednesday, January 6, 2010 ~ 0 Comments

Hidup bukanlah teka-teki silang.. Kalau tak bisa kita tebak, jawabannya akan tiba pekan depan..

SocialTwist Tell-a-Friend

Friday, December 4, 2009 ~ 0 Comments

Pranav Mistry: The thrilling potential of 'SixthSense' technology

The next technology that will change our live completely...
================================
Pranav Mistry: The thrilling potential of 'SixthSense' technology

http://economictimes.indiatimes.com/Pranav-Mistry-The-thrilling-potential-of-SixthSense-technology/videoshow_ted/5231080.cms

At TEDIndia, Pranav Mistry demos several tools that help the physical world interact with the world of data -- including a deep look at his SixthSense device and a new, paradigm-shifting paper "laptop".

In an onstage Q&A, Mistry says he'll open-source the software behind SixthSense, to open its possibilities to all.


Pranav Mistry: The thrilling potential of 'SixthSense' technologySocialTwist Tell-a-Friend

~ 0 Comments

Twitter is Over Capacity

Twitter is Over Capacity



Twitter is Over CapacitySocialTwist Tell-a-Friend